<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DUNIA ANAK CERDAS</title>
	<atom:link href="http://febryan.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://febryan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Jun 2010 02:22:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Balita Laki-laki Belajar dari Ayah</title>
		<link>http://febryan.com/?p=359</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=359#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 02:22:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[&#160;Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Apa saja yang dipelajari balita laki-laki dari ayahnya? &#160; Suatu penelitian mengungkap bahwa para ayah perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;<strong><span>Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Apa saja yang dipelajari balita laki-laki dari ayahnya?</span></strong></p>
<div>&nbsp;</div>
<div><span>Suatu penelitian mengungkap bahwa para ayah perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu bisa saja berkurang. Namun kebutuhan anak laki-laki untuk berinteraksi dengan ayah, dua kali melebihi kebutuhan anak perempuan.</span></div>
<div><span id="more-359"></span></div>
<div>&nbsp;<span>Faktanya, anak laki-laki lebih tertarik meniru ayahnya ketimbang ibunya. Bagaimana balita laki-laki Anda belajar dari ayah?</span></div>
<ul type="disc">
<li><span>Ayah menjadi model dan memberi      pengaruh, baik emosi, sosial, maupun fisik</span></li>
<li><span>Belajar mengomunikasikan perasaan      kepada keluarga. Anak kerap salah memahami mood jelek orang tuanya dan      menganggap dirinya penyebab kemarahan orang tuanya.</span></li>
<li><span>Belajar mengekspresikan perasan.      Laki-laki yang mencari dan mendapat dukungan emosi dari keluarga akan      mengalami kehidupan keluarga yang harmonis.</span></li>
<li><span>Anak laki-laki belajar memperlakukan      perempuan dengan mengamati ayah.</span></li>
<li><span>Pencegahan terjadinya domestic      violence, kekerasan dalam rumah tangga, dapat dengan cara mendidik anak      laki-laki dalam keluarga dimana ayah dan ibu saling menghormati, mencintai      dan mendukung.</span></li>
</ul>
<p><span>Banyak hal yang bisa dipelajari oleh balita laki-laki dari Ayahnya. Pastinya, sebagai ayah harus menjadi contoh yang baik bagi anaknya, khususnya laki-laki. Dari ayahnya, anak laki-laki ingin belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, dan menerima maskulinitasnya dengan gembira.</span></p>
<div>&nbsp;</div>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D359&amp;t=Balita%20Laki-laki%20Belajar%20dari%20Ayah" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=359</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Anatomis Otak Bayi Lelaki dan Perempuan</title>
		<link>http://febryan.com/?p=357</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=357#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 02:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Otak bayi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[&#160;Penelitian di&#160;Virgian Polytechnic Institute and state University, AS (2008) terhadap 224 anak perempuan dan 284 anak lelaki usia 2 bulan-16 tahun, mengatakan kemampuan berbahasa dan motorik halus anak perempuan berkembang 6 tahun lebih awal dari area otak anak lelaki. Area di otak yang melibatkan spasial dan menargetkan suatu hal berkembang 4 tahun lebih awal pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;Penelitian di&nbsp;<b>Virgian Polytechnic Institute and state University, AS (2008</b>) terhadap 224 anak perempuan dan 284 anak lelaki usia 2 bulan-16 tahun, mengatakan kemampuan berbahasa dan motorik halus anak perempuan berkembang 6 tahun lebih awal dari area otak anak lelaki. Area di otak yang melibatkan spasial dan menargetkan suatu hal berkembang 4 tahun lebih awal pada anak lelaki dibandingkan otak anak perempuan. Setelah lahir, otak bayi lelaki dan perempuan tetap menunjukkan perbedaan secara anatomi.<span id="more-357"></span></p>
<p><strong>Bayi lelaki</strong></p>
<ul type="square">
<li><span>Saat lahir ukuran otak bayi lelaki      rata-rata lebih besar 12%-20% dari otak bayi perempuan.</span></li>
<li><span>Lingkar kepala bayi lalaki lebih besar      2% daripada bayi perempuan.</span></li>
<li><span>Bagian sistem lembik yakni kelompok      otak yang berkaitan dengan fungsi otonom serta aspek emosi dan perilaku      tertentu yang bernama<i>&nbsp;</i><i>amygdala</i>&nbsp;pada otak anak lelaki juga lebih      besar dibanding anak perempuan.</span></li>
</ul>
<div><strong>Bayi perempuan</strong></div>
<ul type="square">
<li><span>Saraf yang terkait dengan emosi pada      otak bayi perempuan lebih banyak dibandingkan bayi lelaki. Hal ini membuat      kemampuan daya ingat terhadap peristiwa yang sarat dengan muatan emosional      lebih kuat pada anak perempuan dibandingkan lelaki,</span></li>
<li><span>Aliran darah pada otak bayi perempuan      sekitar 15% lebih banyak dibandingkan dengan otak bayi lelaki. Saat      memproses emosi, pad aotak anak perempuan lebih banyak area fisik otak (<i>cortical      area</i>) yang aktif dibandingkan dengan otak anak lelaki.</span></li>
<li><span>Jalur saraf (<i>corpus callosum</i>)      antara belahan otak kanan dan kiri bayi perempuan tehubung lebih awal dan      berkembang lebih kuat dibandingkan bayi lelaki sehingga bayi perempuan      dapat berbicara dan membaca dengan kedua belahan otaknya.</span></li>
</ul>
<div>&nbsp;</div>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D357&amp;t=Perbedaan%20Anatomis%20Otak%20Bayi%20Lelaki%20dan%20Perempuan" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=357</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Perkaya Wawasan Anak</title>
		<link>http://febryan.com/?p=355</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=355#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 02:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PRA SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[PAUD]]></category>
		<category><![CDATA[Wawasn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[&#160;Di kelompok bermain, anak akan mengenal dan memahami banyak hal yang &#8220;tidak sama&#8221;. Tidak masalah, karena justru akan memperkaya wawasan anak Di usia 3 tahun, saat anak mulai masuk kelompok bermain, ia bertemu banyak teman yang berbeda darinya. Entah itu beda kebiasaan, bahasa, warna kulit, juga beda agama. Anak pun bertanya-tanya: &#8220;Mengapa warna kulitku beda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;<img width="200" height="160" align="left" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/main1.jpg" /><b><span>Di kelompok bermain, anak akan mengenal dan memahami banyak hal yang &ldquo;tidak sama&rdquo;. Tidak masalah, karena justru akan memperkaya wawasan anak</span></b></p>
<p><span><br />
<span>Di usia 3 tahun, saat anak mulai masuk kelompok bermain, ia bertemu banyak teman yang berbeda darinya. Entah itu beda kebiasaan, bahasa, warna kulit, juga beda agama. Anak pun bertanya-tanya: &ldquo;Mengapa warna kulitku beda dengan Igo, temanku? Kenapa cara Igo berdoa sebelum makan seperti itu?&rdquo;&nbsp;</span>&nbsp;</p>
<p><span>Inilah kesempatan emas bagi Anda untuk lebih banyak lagi mengenalkan anak tentang perbedaan. Pengetahuan ini selain mempersiapkan anak untuk hidup bersama dalam perbedaan, juga mengajarkan toleransi, kebersamaan dan empati.</span>&nbsp;<br />
<span id="more-355"></span><br />
<span><b>&ldquo;Kulitmu terang, kulitku gelap&rdquo;</b>. Inilah perbedaan pertama yang tertangkap mata anak saat ia bertemu teman barunya. Anak-anak membandingkan warna kulit, warna rambut dan perbedaan fisik lainnya. Aneka perbedaan itu justru menjadi media yang tepat untuk mengajarkan cara terbaik dalam&nbsp; menghadapi perbedaan tersebut.&nbsp; &nbsp;</span></p>
<p><span><b>&ldquo;Masakan ini manis&rdquo;</b>. Mengeksplorasi perbedaan lewat citarasa makanan sungguh sangat menyenangkan. Setiap daerah memiliki makanan khas masing-masing. Bisa jadi Anda pernah mengajak anak makan Soto Madura, Nasi Gudeg, Es Palu Butung, pizza, spaghetti, hamburger. Mengapa tak Anda ajak anak mengenal makanan khas daerah atau negara lain yang belum dicobanya?&nbsp;&nbsp; &nbsp;</span><br />
<span>&nbsp;&nbsp; &nbsp;Jika Anda berniat mengenal budaya lewat makanan berikut ini cara asyik yang bisa Anda lakukan:</span></span></p>
<ul type="disc">
<li><span>Sembari mengenalkan      makanan suatu negera, ajak si kecil mengenakan pakaian dan aksesori daerah      atau negara tersebut.</span></li>
<li><span>Anda bisa membuat hari Thailand atau      hari Nusa Tenggara Barat, dengan memperkenalkan makanan khas daerah      beserta berbagai aksesori interiornya. Anak merasakan atmosfer beda, dan      menganggap pelajaran mengenal perbedaan sebagai kegiatan menyenangkan.</span></li>
</ul>
<p><b><span>&ldquo;Masuk rumah buka sepatu&rdquo;.</span></b><b>&nbsp;</b><span><span>Setiap keluarga punya aturan dan kebiasaan masing-masing. Di keluarga Anda mungkin tidak perlu melepas sepatu ketika masuk rumah. Sedangkan di keluarga teman anak sebaliknya. Perbedaan aturan perlu dipahami agar anak merasa nyaman, baik di rumah teman atau rumah sendiri.</span></span><span></p>
<p><span>Tradisi yang berbeda dalam komunitas lain perlu dipahaminya. Bagi keluarga muslim, anak-anak memberikan hormat pada orang tua dengan mencium tangan. Tentu anak perlu memahami&nbsp; perbedaan ini agar bisa mengembangkan empatinya. Menghargai budaya lain, lebih mudah bagi anak diterima di komunitas lain.</span>&nbsp;</p>
<p><span>Patut disadari, Anda adalah sumber referensi anak. Cara Anda memandang tradisi yang lain dari budaya Anda, berpengaruh pada anak dalam ia menyikapi perbedaan di sekitarnya. Orang tua, karenannya, mesti hati-hati dengan bahasa tubuhnya. Misalnya, apakah secara tak sadar Anda cenderung mengajak anak menjauh saat berada di tengah-tengah orang yang berbeda dari Anda berdua? &nbsp;</span></p>
<p><span>Bagaimana Anda menghadapi perbedaan, tertanam dalam diri anak. Ia cenderung bersikap seperti bagaimana Anda menyikapinya. Sikap positif Anda membantunya survive dalam perbedaan ketika ia dewasa nanti.</span>&nbsp;</span></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D355&amp;t=Perbedaan%20Perkaya%20Wawasan%20Anak" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=355</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam</title>
		<link>http://febryan.com/?p=352</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=352#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 07:28:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[JADI TAHU]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[IPTEK]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[PEMANDANGAN LANGIT Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam &#160; Langit malam di bulan Juni akan menjadi pemandangan elok bagi astronom maupun warga biasa. Pasalnya, planet merah Mars dan bintang biru Regulus yang berada pada&#160;posisi terdekatnya bulan ini akan tampak sebagai bintang ganda yang bersinar terang di arah barat langit. Antara tanggal 2-10 Juni, Mars [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="color: rgb(0, 255, 255); "><strong>PEMANDANGAN LANGIT</strong></span></div>
<div><span style="color: rgb(255, 153, 0); "><span style="font-size: medium; "><b>Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam</b></span></span></div>
<div>&nbsp;</div>
<p style="text-align: center; "><span><img width="400" height="205" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/mars.jpg" /></span></p>
<p style="text-align: left; "><span>Langit malam di bulan Juni akan menjadi pemandangan elok bagi astronom maupun warga biasa. Pasalnya, planet merah Mars dan bintang biru Regulus yang berada pada&nbsp;posisi terdekatnya bulan ini akan tampak sebagai bintang ganda yang bersinar terang di arah barat langit.</span></p>
<p><span>Antara tanggal 2-10 Juni, Mars dan Regulus berjarak 2,5 derajat satu sama lain. Konjungsi (jarak terdekat antara dua benda angkasa) akan terjadi pada 6 Juni, pada saat Mars hanya berjarak 0,8 derajat dari Regulus. Pada malam sesudahnya, jaraknya akan menjadi 0,9 derajat.</span></p>
<p><span>Mars akan bersinar pada magnitudo 1,2, yang berarti sedikit lebih terang daripada Regulus pada magnitudo 1,34 (semakin besar angkanya semakin kurang terang).<span id="more-352"></span></span></p>
<p><span>Pada awal bulan ini, Mars bergerak ke arah gugusan bintang Leo, di mana Regulus&mdash;bintang berusia 250 juta tahun dan berjarak 79 tahun cahaya dari Bumi&mdash;berada. Pada akhir Juli, Mars akan berada di selatan ekor sang Singa (Leo), mendekati lokasi bintang Denebola. Lalu pada bulan September, Mars akan kehilangan kecemerlangannya hingga magnitude 1,5 ketika jaraknya menjauh 322 juta kilometer dari Bumi.</span></p>
<p><span>Dengan mata telanjang dan dengan teropong, Anda bisa dengan mudah membedakan Planet Mars dan bintang Regulus. Mars, meski disebut planet merah, akan tampak oranye keemasan, sedangkan bintang Regulus bersinar putih kebiruan akibat fusi hidrogen menjadi helium di intinya.</span></p>
<p>Cara mengukur jarak keduanya di angkasa bisa menggunakan kepalan tangan kita sebagai sekstan. Kepalan tangan kita yang dihadapkan ke angkasa menunjukkan jarak sekitar 10 derajat busur di angkasa.&nbsp;</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D352&amp;t=Merah%20Mars%2C%20Biru%20Regulus%20di%20Langit%20Hitam" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=352</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akupuntur Hasilkan Pereda Nyeri Alami</title>
		<link>http://febryan.com/?p=350</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=350#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 07:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Akupuntur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[&#160;Setiap tusukan jarum di titik tertentu di tubuh ternyata efektif untuk merangsang tubuh mengeluarkan pereda nyeri alamiah yang disebut&#160;adenosine.Hasil penelitian ini semakin mengukuhkan pendapat bahwa metode akupuntur bisa diteliti dan dijelaskan secara ilmiah.&#160; Berbekal pengetahuan tersebut, para ahli yakin manfaat akupuntur ini bisa digabungkan dengan obat kanker&#160;deoxycoformycin, yang menjaga agar kadar adenosine dalam tubuh lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;<img width="200" height="151" align="right" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/akupuntur.jpg" /><span><span>Setiap tusukan jarum di titik tertentu di tubuh ternyata efektif untuk merangsang tubuh mengeluarkan pereda nyeri alamiah yang disebut</span></span>&nbsp;<em>adenosine.</em><span><span>Hasil penelitian ini semakin mengukuhkan pendapat bahwa metode akupuntur bisa diteliti dan dijelaskan secara ilmiah.</span></span>&nbsp;</p>
<p><span> <span>Berbekal pengetahuan tersebut, para ahli yakin manfaat akupuntur ini bisa digabungkan dengan obat kanker</span>&nbsp;<em>deoxycoformycin</em><span>, yang menjaga agar kadar adenosine dalam tubuh lebih bertahan lama.</span></span></p>
<p><span><span>Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr.Maiken Nedergaard dan timnya dari University of Rochester Medical Center. Secara intensif mereka melakukan penelitian pada mencit yang diberikan terapi akupuntur setengah jam untuk kelompok mencit yang mengalami rasa tidak nyaman karena bekas cakaran.</span>&nbsp;<span id="more-350"></span></span></p>
<p><span>Para peneliti menemukan bahwa level<em>adenosine</em>&nbsp;<span>di jaringan kulit yang dekat dengan tusukan jarum 24 kali lebih tinggi setelah terapi akupuntur. Dan mencit yang menderita rasa tidak nyaman itu menunjukkan pengurangan rasa nyeri.</span>&nbsp;<em>Adenosine</em>&nbsp;<span>lebih dikenal sebagai pengatur tidur, menghambat sinyal saraf dan inflamasi.</span>&nbsp;</span></p>
<p><span><span>Akupuntur adalah pengobatan dengan metode tusuk jarum pada beberapa bagian organ tubuh yang dianggap sebagai titik</span>&nbsp;<em>accupoint</em>&nbsp;<span>untuk menimbulkan efek khusus. Pengobatan ini tidak disertai dengan pemberian ramuan atau obat-obatan lain.</span></span></p>
<p><span><span>Akunpuntur yang dulu dianggap sepele dan sulit dijelaskan secara rasional kini telah menjadi salah satu pengobatan tradisional alternatif yang diakui dalam dunia kedokteran modern. Berbagai penelitian ilmiah pun dilakukan untuk menguak misteri dibalik kemampuan metode ini dalam menyembuhkan penyakit.</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 153, 0); ">http://kesehatan.kompas.com</span></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D350&amp;t=Akupuntur%20Hasilkan%20Pereda%20Nyeri%20Alami" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=350</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENGATASI TRAUMA</title>
		<link>http://febryan.com/?p=348</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=348#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[PRA SEKOLAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[&#160;Bantu si prasekolah sedini mungkin. &#160; &#160; Suatu sore yang cerah, Iwan (4) asyik bermain di luar rumah bersama pengasuhnya. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh suara ledakan cukup keras. Serentak keduanya menoleh ke arah suara tersebut, yang ternyata adalah ledakan kompor minyak milik pedagang mi ayam. Beruntung api yang menyala besar itu dapat segera dipadamkan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;<em>Bantu si prasekolah sedini mungkin.</em></p>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Suatu sore yang cerah, Iwan (4) asyik bermain di luar rumah bersama pengasuhnya. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh suara ledakan cukup keras. Serentak<img width="200" height="270" border="2" align="right" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/singa.jpg" /> keduanya menoleh ke arah suara tersebut, yang ternyata adalah ledakan kompor minyak milik pedagang mi ayam. Beruntung api yang menyala besar itu dapat segera dipadamkan oleh si pedagang dengan bantuan beberapa tetangga. Namun sejak peristiwa itu Iwan selalu ketakutan bila melihat api, termasuk api yang berasal dari kompor gas di rumah. Bocah cilik itu langsung lari menghindar.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Ya, Iwan mengalami apa yang disebut trauma, bukan sekadar ketakutan biasa, jadi tingkatannya lebih tinggi dari ketakutan yang umumnya dialami anak-anak. Trauma merupakan suatu kejadian yang sangat membekas dan amat mendalam pada diri anak. Anak pernah menyaksikan, mengalami, dan merasakan langsung kejadian yang secara aktual mengerikan, menakutkan atau mungkin bahkan mengancam jiwanya. Contoh, peristiwa tabrakan, bencana alam, kebakaran, kematian seseorang, kekerasan fisik maupun seksual, pertengkaran hebat orangtua, perceraian, dan sebagainya. Bagi si prasekolah kejadian ini akan membekas dalam ingatannya dan tak mudah untuk melupakannya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Reaksi anak pada kejadian tersebut bisa bermacam-macam. Ada yang tercenung, menangis, diam saja, dan lainnya. Selanjutnya akan timbul gejala seperti: anak menolak membicarakan peristiwa yang pernah dialaminya, menghindar dari apa yang ditakutinya, aktivitas rutinnya tiba-tiba juga berubah, takut pada orang yang mengintimidasinya, jadi susah tidur dan jika malam selalu mimpi buruk dengan terbangun dan keringatan, gampang marah, tak bisa konsentrasi, tak mau berteman, minatnya hilang, dan sebagainya. Biasanya gejala ini muncul berulang dan dalam waktu lama.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Harap dipahami, dampak trauma pada anak sungguh luar biasa. Karena bagaimanapun juga daya ingat atau memori anak bersifat menetap, sehingga bisa mengganggu tumbuh kembang dan juga caranya membangun relasi dengan orang lain serta lingkungannya sampai dewasa nanti. Ada banyak faktor yang memengaruhi proses &quot;penyembuhan&quot; anak dari trauma yang dialaminya, antara lain tingkat stres anak itu sendiri dan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Jika daya tahan anak terhadap stres cukup kuat dan lingkungannya kondusif, maka proses mengatasi trauma akan lebih optimal. Jika tidak, anak akan terus terbenam dalam traumanya. Anak trauma perlu dibantu memilah mana yang baik bagi hidupnya untuk diingat dan mana pula ingatan yang tak perlu difokuskan dan sebaiknya disingkirkan.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Mengingat sulitnya mengatasi trauma ini, selain butuh bantuan lingkungan, anak juga perlu bantuan profesional dari psikolog atau mungkin psikiater.</div>
<div><span id="more-348"></span></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>PENANGANAN UMUM</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Mengatasi trauma pada anak bukanlah proses instan, diperlukan waktu dan kesabaran dari orangtua untuk membantu anak &quot;keluar&quot; dari trauma yang dialaminya. Jika orangtua melihat ada gejala/ciri trauma pada anak, inilah beberapa hal yang dapat dilakukan:</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Bawalah ke psikolog untuk mencari penyebab trauma yang dialami anak. Jika sampai mengganggu sekali ada kalanya anak disarankan untuk ke psikiater guna dilakukan beberapa pengobatan secara medis.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Terlepas dari dampak nantinya, biasanya dilakukan terapi berpikir (cognitive behavior therapy/CBT). Cara berpikir anak diubah menjadi positif. Contoh, anak yang merasa dirinya tak berharga lalu ditonjolkan kelebihan yang dimilikinya semisal dalam melukis, bermain piano, dan sebagainya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Menjadi anggota support group agar anak bisa berbagi dan tidak merasa sendirian mengalami trauma.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Ajarkan teknik relaksasi maupun meditasi untuk anak agar ia lebih tenang.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Pelan-pelan libatkan ia dalam kegiatan yang memungkinkan terjadinya pertemanan untuk saling berinteraksi atau berbagi keterampilan sosial. Kegiatan tersebut tetap harus sesuai minatnya. Terlibat dalam kegiatan membuat anak merasa dirinya berharga dan tumbuhlah rasa percaya dirinya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Orangtua juga perlu membekali diri dengan pengetahuan menghadapi anak yang trauma agar tidak ikut terbawa. Selain itu, bekal ini dapat membantu anak mengurangi traumanya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><span style="color: rgb(0, 255, 255); "><span style="font-size: medium; "><strong>KEMUNGKINAN TRAUMA DAN CARA MENGATASINYA</strong></span></span></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>* Trauma Keluarga</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Pertengkaran kedua orangtua yang disaksikan oleh anak ataupun peristiwa perceraian yang dialami orangtua, sehingga anak ditinggal oleh salah satu orang yang dicintainya, akan membekas secara mendalam pada ingatan anak. Dampaknya, mungkin anak jadi pendiam, tak banyak minatnya akan sesuatu, jadi gampang marah, ada rasa takut jika melihat pertengkaran orangtuanya kembali terulang, dan sebagainya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Selanjutnya akan berdampak pada masalah sosialisasi anak. Di usia yang lebih besar lagi anak akan mengalami hambatan dalam hubungan pertemanan dengan lawan jenisnya. Mungkin anak akan menolak pertemanan yang lebih dari seorang sahabat, sulit mencintai orang lain. Ada kekhawatiran akan pernikahan dan mengalami hal yang sama seperti yang dialami kedua orangtuanya sehingga anak tak mau menikah apalagi punya anak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>Cara Mengatasi:</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Yang pertama-tama harus berubah adalah orangtua.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>1. Orangtua harus menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada anak atas kesalahan yang dilakukan selama ini.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>2. Tidak lagi melakukan pertengkaran di depan anak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>3. Memberikan penjelasan kepada anak mengapa ayah dan ibu harus berpisah.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>4. Tetap menjaga hubungan baik dengan pasangan. Rencanakan kembali bersama pasangan apa yang akan dilakukan pada anak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>5. Lakukan aktivitas kebersamaan dengan anak seperti main bola bersama, outbound, berkemah, dan sebagainya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>6. Saat anak merasa relaks dengan kedua orangtuanya, bangunlah komunikasi dengan baik. Lakukan terus-menerus.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>* Trauma Kekerasan</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Secara fisik akan lebih terlihat lewat tanda-tanda pada tubuh anak. Selain itu, tampak ekspresi ketakutan yang ditampilkan oleh anak. Begitu pun kekerasan secara seksual. Namun adakalanya, kekerasan seksual yang dilakukan pada anak usia ini tersamar dan tak diketahui, karena mungkin pelakunya melakukan secara &quot;halus&quot; semisal dengan iming-iming sesuatu sehingga anak bersedia melakukannya tanpa paksaan. Anak usia ini sudah tahu sebab-akibat. Kalau diberi sesuatu maka dia pun harus memberikan yang diminta, misalnya. Bagi anak, perlakuan tersebut dipahaminya sebagai perilaku orang dewasa di sekitarnya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Dampak trauma dari kekerasan fisik, nantinya anak akan hidup dengan penuh ketakutan atau malah mencontoh perilaku tersebut dan melakukannya pada orang lain. Pada kekerasan seksual, anak merasa dirinya sudah tidak utuh lagi, merasa diri tak berdaya dan tak berharga. Dia akan menghargai dirinya dari benda atau hal yang bersifat materi lainnya atau dirinya merasa berharga kalau ia membiarkan dirinya teraniaya oleh orang lain. Anak mungkin akan membenci jenis kelamin yang berbeda dan bisa mencintai sesama jenis, memilih hidup sendiri, dan sebagainya. Untuk meminimalisasi dampak tersebut, maka harus diatasi sejak dini.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>Cara Mengatasi:</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>1. Perhatikan gejala yang mungkin muncul pada anak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>2. Ajak anak bermain atau menggambar dan orangtua terlibat di dalamnya. Biasanya dalam kegiatan menggambar, anak yang mengalami kekerasan fisik akan menggambar orang dengan organ yang tak utuh semisal kaki atau tangannya buntung. Pada anak yang mengalami kekerasan seksual, gambaran pada bagian organ seksualnya dicoret-coret hitam atau digambarkan secara tak lazim semisal ukuran besar dan sebagainya. Ketika bermain boneka, anak yang mengalami kekerasan fisik akan memukul-mukul dan melakukan kekerasan pada boneka. Pada anak yang mengalami kekerasan seksual, akan menekan-nekan bagian organ kelamin bonekanya. Hal itu akan diulanginya tiap kali bermain.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>3. Setelah anak merasa relaks, galilah ceritanya. Misal, tanyakan pada anak mengenai gambarnya, &quot;Kenapa gambar kaki orang di situ buntung?&quot; atau &quot;Kenapa bagian alat kelaminnya dicoret-coret seperti itu?&quot; Bisa saja lalu anak mengatakan, &quot;Soalnya aku ini bapaknya dan marah sama anaknya.&quot; Minta pula anak bercerita agar ia merasa tak tertekan, terpojok, dan sebagainya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>4. Konfirmasikan akan apa yang dialami anak untuk memastikan kesaksian, apakah pernyataannya bisa dibenarkan atau tidak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>5. Jika anak tak mau bercerita, jangan memaksanya. Paling tidak, bila anak menolak, orangtua tetap memperoleh data bahwa si anak memang berat menceritakan hal tersebut.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>6. Anak perlu mendapat penanganan khusus dengan dibawa ke psikolog atau psikiater untuk diintervensi lebih dalam lagi.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>Catatan Penting:</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Sebetulnya, kekerasan seksual pada anak bisa dihindari dengan memberikan pendidikan seksual sejak dini. Lakukan dari hal yang mudah, semisal mengatakan pada anak untuk menjaga organ seksualnya, &quot;Dek, alat kelaminmu ini merupakan hal yang pribadi dan hadiah dari Tuhan yang harus kamu jaga. Jadi, tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya, kecuali Bunda saja.&quot; Selain itu, biasakan pula anak sejak dini menutup organ privatnya. Tak kalah penting bagi orangtua untuk menjaga komunikasi dan kedekatan dengan anak agar dapat memantau keadaannya demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>* Trauma Bencana Alam</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Trauma akibat bencana sangat terekam dalam ingatan anak, seperti yang dialami kala tsunami. Bila mereka diminta menggambar akan tampak dari hasil karyanya berkaitan dengan air, misalnya. Dampak trauma dari bencana antara lain, anak menghindari pembicaraan yang mengarah pada peristiwa bencana, mungkin anak jadi takut keluar rumah sehingga terhambat aktivitasnya maupun sosialisasinya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>Cara Mengatasi:</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>1. Gali perasaan yang dialami anak lewat menggambar maupun bermain. Umpama, main kartu bergambar yang ada cerita tentang bencana yang dialami anak. Minta anak mengurutkan kartu berdasarkan cerita tersebut.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>2. Undanglah teman-teman anak untuk melakukan support group sehingga anak bisa berbagi dengan teman-temannya dan tak merasa sendirian.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>* Trauma Kematian</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Kematian merupakan suatu konsep yang abstrak bagi anak, karena tahap perkembangannya masih praoperasional sehingga sulit mencerna peristiwa tersebut. Dampak dari trauma kematian pada setiap anak berbeda tergantung daya stres pada setiap anak. Jika kejadiannya begitu tragis dan disaksikan oleh anak, tentu akan sangat traumatik dibandingkan bila kejadian tersebut tidak menakutkannya. Dampak dari trauma kematian, bisa jadi anak akan menghindar dari pembicaraan yang mengarah pada kejadian kematian tersebut, anak jadi lebih pendiam, dan sebagainya. Perlu waktu bagi anak mengatasi trauma tersebut.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>Cara Mengatasi:</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>1. Orangtua tak menutupi atau berbohong mengenai kejadian yang sebenarnya. Jangan sampai karena ingin menghibur anak lantas mengatakan, &quot;Mama sedang pergi dan nanti akan kembali.&quot; Penjelasan seperti itu menyiksa batinnya karena anak akan menunggu sia-sia.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>2. Orangtua hendaknya memberikan contoh dengan tidak memperlihatkan kesedihan mendalam di hadapan anak. Tujuannya agar anak pun dapat bersikap positif.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>3. Berikan contoh konkret lewat cerita-cerita fabel, semisal, &quot;Setiap makhluk yang diciptakan Tuhan itu ada batas waktu hidupnya. Seperti induk kelinci ini, lo. Ada yang usianya cuma sampai 5 tahun atau 10 tahun. Setelah itu Tuhan akan memanggilnya pulang. Begitu juga dengan Ayah. Meski Ayah tidak ada lagi bersama kita namun ia tetap ada di ingatan kita.&quot;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><span style="color: rgb(0, 255, 0); ">www.tabloid-nakita.com</span></div>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D348&amp;t=MENGATASI%20TRAUMA" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=348</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIDUR SIANG VS SI PRASEKOLAH</title>
		<link>http://febryan.com/?p=344</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=344#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 04:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PRA SEKOLAH]]></category>
		<category><![CDATA[Tumbuh Kembang]]></category>
		<category><![CDATA[Main terus]]></category>
		<category><![CDATA[Tidur Siang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang &#34;hilang&#34; kalau si prasekolah sulit diajak tidur siang? &#160; &#160; Memasuki usia 4 tahunan, sebagian anak mulai meninggalkan kebiasaan tidur siangnya. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena anak tengah tertarik pada mainan dan permainan serta lingkungan pertemanan yang ditemuinya. Padahal, menurut dr. Yuda Turana, Sp.S., dengan tidur siang ada beberapa faedah yang bisa dirasakan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><em>Apa yang &quot;hilang&quot; kalau si prasekolah sulit diajak tidur siang?</em></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Memasuki usia 4 tahunan, sebagian anak mulai meninggalkan kebiasaan tidur siangnya. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena anak tengah tertarik pada mainan dan permainan serta lingkungan pertemanan yang ditemuinya. Padahal, menurut dr. Yuda Turana, Sp.S., dengan tidur siang ada beberapa faedah yang bisa dirasakan. Misalnya, untuk memulihkan fisik dan mental setelah sejak pagi beraktivitas.<img width="200" height="255" border="3" align="right" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/tidur siang.jpg" /></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Dengan tidur siang, tubuh menjadi relaks. Selama tidur, hormon kortisol bekerja menetralisasi stres. Ketika anak bangun, dia merasa kembali segar dan kemampuan berkonsentrasinya kembali meningkat. Selain itu, kala tidur siang, metabolisme otak berlangsung sangat aktif. Efeknya baik bagi korteks otak, terutama untuk meningkatkan kemampuan kognitif. Alhasil, diharapkan anak bisa menyerap stimulasi yang diberikan dengan baik.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Beberapa penelitian menguak tidur siang terbukti meningkatkan kesiapan tubuh, memulihkan mood bahkan produktivitas. Secara fisik juga, memberikan kesempatan pada tubuh untuk mendapat energi baru sebagai &quot;amunisi&quot; untuk melakukan aktivitas. Selama tidur, memang semua fungsi organ tubuh cenderung melamban. Nah, pada saat itulah sel dan jaringan yang aus dan rusak dipulihkan. Lantaran itu, anak dianjurkan untuk tidur siang karena mereka dalam masa pertumbuhan sehingga sedang banyak bergerak dan membutuhkan banyak energi.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Dari sisi psikologis, tidur siang juga mengajari si prasekolah untuk berdisiplin pada aturan sehingga ia bisa belajar mengelola waktu. Dalam skala lebih luas, bila kita mengajarkan dan menerapkan aturan secara konsisten, maka kelak anak akan disiplin terhadap waktu.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Sebaliknya, bila tak tidur siang, anak relatif jadi mudah rewel, gampang ngambek, uring-uringan, kurang mampu berkonsentrasi, dan malas makan. Ujung-ujungnya, berbagai aktivitas yang bermanfaat urung dilakukan.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Lantaran itulah, kata dokter yang berpraktik di RS Pantai Indah Kapuk tersebut, anak memang membutuhkan tidur siang. Tentunya, kebutuhan tidur siang pada tiap tingkat usia berbeda-beda. Untuk usia prasekolah cukup sekitar 1-2 jam. Nah, yang perlu diperhatikan juga adalah kualitas tidur. Meskipun cukup lama, kalau di saat bangun anak tak merasa bugar, ini berarti tidurnya kurang berkualitas. Jangan lupa batasi waktunya. Kelamaan tidur siang justru bisa menyebabkan sulit tidur di malam hari. Jadi, lebih baik tidur 1 jam tapi si anak benar-benar lelap.</div>
<div><span id="more-344"></span></div>
<div><!--more--></div>
<div><!--more--></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>BILA TAK MAU TIDUR</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Jika si prasekolah tak mau tidur, jangan dipaksa karena hanya akan membuatnya semakin ogah tidur. Ada kalanya anak memang tak mau tidur. Kalau itu yang terjadi, jangan terlalu khawatir. Lakukan saja beberapa aktivitas yang bermanfaat namun pilih yang tenang seperti membaca, bermain boneka, atau mendengarkan lagu. Kegiatan yang mengasah keterampilan tangan dan kognitif seperti bermain pasel, juga disarankan. Dengan kegiatan yang tenang dan tak menguras energi fisik, diharapkan anak dapat beristirahat walaupun tidak tidur siang.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>TIP AJAK TIDUR SIANG</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Jelaskan pada si kecil mengenai pentingnya tidur siang. Contohnya dengan mengatakan, &quot;Kalau Kakak tidur siang, berarti badan Kakak beristirahat sebentar. Badan yang tadinya capek jadi segar lagi. Kalau badan segar dan sehat, Kakak enggak mudah sakit.&quot;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Untuk memudahkan anak ngantuk pada siang hari, biarkan fisiknya lebih aktif selama pagi hari. Semakin letih tubuhnya, semakin mudah mengajaknya tidur siang. Saat ia tampak capek beraktivitas dan sudah masuk waktu tidur siang, tanyakan, &quot;Kakak capek ya? Badan kita memang butuh istirahat.&quot; Setelah bangun tidur, kita bisa berkata, &quot;Nah, sekarang Kakak merasa segar, kan?&quot;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Ajari anak tidur siang pada waktu yang sama agar terkondisi. Untuk itu lakukan pembiasaan. Ingat, tubuh memiliki jam biologis (biological clock) yang dibentuk oleh kebiasaan harian. Nah, bila si kecil sudah dibiasakan tidur siang, otomatis jam biologis tubuh akan &quot;menyetelnya&quot; untuk tidur siang. Kalau sudah begitu, tanpa disuruh pun ia akan pergi tidur dengan sendirinya. Lagi pula bila ia sudah merasa capek dan mengantuk, pasti takkan menolak tidur.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Bangun suasana yang kondusif untuk tidur. Ajak ke &quot;zona sunyi&quot; atau tenang, misalnya dengan menyetel musik berirama tenang sebagai pengantar tidur. Awalnya mungkin sulit, namun bila kebiasaan tidur siang ini terus dibangun, maka takkan sulit lagi mengajak anak tidur siang. Malah, boleh jadi anak yang minta tidur siang.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Ciptakan ritual sebelum tidur siang, misalnya cuci tangan dan kaki, serta berdoa sebelum tidur. Hal ini akan membantu si anak untuk memasuki tahapan tidur, karena otak terkondisi untuk tidur saat si anak mulai mencuci kaki. Jangan lupa, di dekat zona tidur (ranjang dan sekitarnya) hindari adanya mainan yang dapat menarik perhatian anak, misalnya mobil-mobilan atau boneka Barbie favorit si prasekolah.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Bila anak tak kunjung tidur meski sudah melakukan ritual tersebut, harap bersabar saja. Usai melakukan aktivitas fisik ada suatu masa yaitu cool period sekitar 10-20 menit, baru kemudian anak bisa tidur. Yang pasti, ritual-ritual sebelum tidur dapat membantu anak relaks hingga bisa cepat tidur.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Jangan beri reward &amp; punishment. Maksudnya, anak yang tak bisa tidur, jangan diberikan hukuman/sanksi ataupun paksaan. Hal-hal semacam itu malah makin membuat anak sulit tidur dan tidak bila relaks. Ancaman seperti, &quot;Mama enggak sayang lagi deh kalau kamu enggak tidur siang!&quot; ini justru berefek buruk. Selain menganggap bahwa tidur siang tak menyenangkan, anak juga akan merasa takut, bahkan mengalami mimpi buruk. Begitu pun bila anak mau tidur siang, tak perlu ia diiming-imingi reward. Bisa-bisa anak pura-pura tidur demi mendapatkan hadiahnya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>* Temani anak sampai dia tidur. Kehadiran orangtua (dengan pelukan atau elusan lembut) memberikan suasana nyaman bagi si kecil. Secara psikologis, langkah ini pun dapat mempererat kelekatan antara anak dan orangtua. Si kecil pun merasakan rasa sayang dan perhatian dari orangtuanya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><span style="color: rgb(153, 204, 0); ">www.tabloid-nakita.com</span></div>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D344&amp;t=TIDUR%20SIANG%20VS%20SI%20PRASEKOLAH" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=344</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI</title>
		<link>http://febryan.com/?p=342</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=342#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 13:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Prasekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[&#160;MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI Kuncinya sederhana saja. Mau tahu? &#160; Suatu sore di hari Minggu, Bunda mengajak Bryan, anak lelakinya yang berusia 3,2 tahun, makan ikan bakar di sebuah rumah makan di Pertokoan Maspion Square. Seperti umumnya tempat makan, selalu tersedia sebuah pesawat teve. Saat menikmati ikan bakar, tiba-tiba saja Bryan dengan suara kerasnya nyeletuk, &#34;Mama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI</p>
<div><em>Kuncinya sederhana saja. Mau tahu?</em></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><img width="200" height="175" border="2" align="left" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/makan.jpg" />Suatu sore di hari Minggu, Bunda mengajak Bryan, anak lelakinya yang berusia 3,2 tahun, makan ikan bakar di sebuah rumah makan di Pertokoan Maspion Square. Seperti umumnya tempat makan, selalu tersedia sebuah pesawat teve. Saat menikmati ikan bakar, tiba-tiba saja Bryan dengan suara kerasnya nyeletuk, &quot;Mama, nonton sinetron kan bikin anak bodoh ya?&quot; Sang bunda agak tersentak tapi lalu cepat-cepat mengangguk sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Sempat Bunda menoleh ke arah pengunjung lain yang menengok ke arah mereka, entah lantaran suara Bryan yang keras ataukah karena perkataannya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Kali lain, kisah Bunda lagi, Bryan mendapatkan sebuah goody bag dari teman sekelasnya yang berulang tahun. Tiba di rumah, Bryan langsung memilah sendiri mana saja snack yang tak dibolehkan dikonsumsi selama ini karena tidak ada label HALAL. Jika ada snack baru yang belum dikenalnya dan dia tak tahu ada-tidaknya label HALAL di bungkusnya, maka lebih dahulu dia akan menanyakannya pada sang Mama, &quot;Kalau yang ini boleh enggak, Ma?&quot; atau dia sendiri sudah bisa mengatakan, &quot;Aku enggak mau makanan yang seperti itu, soalnya Nggak ada label HALAL-nya.&quot;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Banyak lagi hal lain yang diceritakan Bunda tentang &quot;kehebatan&quot; anak lelaki semata wayangnya itu. Bunda sangat bangga terhadap buah hatinya. Betapa tidak? Di usia yang masih balita, sang anak sudah bisa bersikap positif. Tentu saja, hal itu berkat asuhan dan didikan yang konsisten dalam mengajarkan sikap/perilaku postif sejak dini. Seperti juga dikatakan Dr Ruri, &nbsp;dokter Anak di Klinik dekat rumah, &quot;Orangtua memang harus menanamkan sikap dan perilaku positif pada anak sedini mungkin.&quot;<span id="more-342"></span></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Sebetulnya, lanjut Ruri, perilaku positif yang diharapkan orangtua itu intinya adalah disiplin. &quot;Jadi, untuk memotivasi anak agar mau berperilaku positif adalah dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan pada anak. Tentunya, orangtua juga memberikan contoh dan menjelaskan perilaku apa yang diharapkan dari anak dengan mengemukakan alasannya,&quot; kata Ruri seraya mengingatkan orangtua agar tak lupa memberikan reward atas sekecil apa pun usaha anak.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Namun perlu dipahami, cara ini tidak dapat dilakukan secara instan melainkan harus terus-menerus sampai akhirnya anak mengerti. Jadi, jangan pernah bosan untuk selalu mengingatkan si buah hati dengan nada yang tidak memaksa dan mengancam tentunya. Ketahuilah, sikap/ perilaku positif anak di usia dini akan membuat anak merasa percaya diri dengan apa yang dilakukannya. &quot;Dia merasa dirinya nyaman dan aman karena tahu apa yang harus dilakukan. Hidup anak jadi lebih teratur dan punya disiplin diri yang baik. Hal positif ini akan terus berlanjut hingga usia dewasa nanti,&quot; tandas Rosdiana.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><span style="font-size: small; "><span style="color: rgb(0, 255, 255); "><strong>SIKAP/PERILAKU POSITIF</strong></span></span></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>1. Memilih makanan sehat/tak jajan makanan sembarangan.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Mulailah dari diri orangtua sendiri, yaitu dengan selalu menyediakan makanan sehat di rumah, tidak memberikan contoh jajan makanan yang tak sehat semisal<img width="180" height="116" border="2" align="right" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/jeruk.jpg" /> beli makanan gorengan, dan sebagainya. Orangtua pun selalu menjelaskan pada anak akan pentingnya makanan sehat serta bahayanya makanan tak sehat yang mengandung pengawet, pewarna dan penambah rasa. Berikan contoh-contoh dari dampaknya yang bisa anak ketahui. Penjelasan ini tentunya harus dilakukan berulang-ulang sehingga anak mengerti. Dengan begitu, ia akan terbiasa dan tak masalah jika tak diberi makanan yang tak dibolehkan.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Bagaimana jika dibuatkan jadwal tertentu? Misal, hanya pada saat weekend saja atau saat berbelanja bulanan saja, sehingga anak tetap bisa merasakan makanan tertentu tanpa harus memuasakannya sama sekali. Hal ini boleh saja tergantung pada kebijakan masing-masing orangtua. Begitu pun bila orangtua memberlakukan &quot;larangan&quot; secara ekstrem lantaran anaknya mengalami autisma, misal.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>2. Tak asal belanja barang/ mainan.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><img width="200" height="145" border="2" align="left" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/mainan1.jpg" />Sebetulnya hal ini tergantung bagaimana ketaatan orangtua dalam meluluskan atau tidaknya permintaan anak. Ada tipe orangtua yang senang memberikan apa pun yang dianggapnya menarik, lucu dan baik buat anak, meski si anak tidak memintanya, Ada juga orangtua yang main gampang saja dan tak mau repot dengan menuruti apa pun yang diminta anak daripada mendengar anaknya merengek atau ngamuk lantaran tak dikabulkan. Nah, bila Ibu dan Bapak termasuk orangtua tipe ini, tak heran bila si kecil akan terdorong untuk selalu ingin membeli/belanja barang atau sesuatu sesuai keinginannya. Padahal, dampaknya buruk buat anak. Salah satunya, anak jadi cenderung egois dan manja. Orangtua pun akan terbebani dan tersusahkan oleh perilaku anaknya ini.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Jadi, orangtua perlu introspeksi diri dan segera mengubah perilakunya yang merugikan itu. Hendaknya orangtua tidak selalu meluluskan permintaan anak. Jika ia sudah punya barang yang sejenis/hampir sama dengan yang akan dibelinya, jelaskan, ia sudah memiliki banyak barang tersebut. Ajarkan pula, ia boleh membeli sesuatu yang memang dibutuhkannya. Ingatkan anak, semua yang harus dibeli tentunya menggunakan uang yang didapat dari hasil kerja keras orangtua. Anak harus bisa menghargainya dengan cara tidak menghamburkan uang melainkan berhemat. Begitu pun dengan mainan/barang yang sudah dimilikinya, anak harus bisa menghargainya dengan menjaga baik-baik dan tidak merusaknya. Bahkan ajari anak untuk membagi barang yang dimilikinya kepada anak-anak yang kurang beruntung.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Berikan pula pilihan pada anak untuk membeli sesuatu yang diinginkan atau memilih waktu bersama orangtua, misalnya berenang. Umumnya, anak usia prasekolah&mdash;bila dibandingkan anak yang usianya lebih besar&mdash;akan lebih memilih waktu bersama orangtua. Jika bukan itu pilihan anak, maka orangtua perlu introspeksi diri.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>3. Menahan emosi.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Perilaku agresif anak seperti memukul, mencubit, melempar dan sebagainya bukanlah perilaku menyenangkan bagi semua orang. Jika anak bersikap agresif dan tidak diatasi, akan menghambat anak dalam berhubungan dengan orang lain. Bukankah orangtua pun akan merasa kesulitan? Karenanya, orangtua perlu memberikan contoh perilaku baik yang diharapkan, selain juga menjelaskan secara terus-menerus agar anak mengerti.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Ajari anak mengendalikan emosinya dengan cara paling efektif yaitu pemberian time-out karena bisa menenangkan emosi anak, Jadi, saat anak dalam kondisi marah, minta ia masuk ke dalam suatu ruangan. Pilihlah ruang yang nyaman semisal ruang tidurnya atau lainnya. Diamkan anak dalam ruang tersebut. Berikan waktu untuk anak mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya. Lamanya tergantung pada tingkat usia anak, tingkat kemarahan dan juga kemampuan mengatasinya. Jika anak sampai memberantakkan kamarnya, minta dia untuk membereskan kembali. Selesai waktu time-out, beri penjelasan pada anak tentang apa yang jadi harapan dan keinginan orangtua dari sikapnya. Juga beri pujian atau ajak anak melakukan kegiatan bersama, semisal memasak bersama.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>4. Gosok gigi.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Tak ingin punya anak kecil-kecil sudah rusak giginya, bukan? Maka itu anak harus diajarkan menjaga kesehatan giginya. Caranya antara lain dengan menyediakan peralatan gosok gigi dan pasta gigi khusus anak yang menarik. Beri alasan pada anak mengapa ia harus menggosok giginya setiap pagi sesudah makan dan sebelum tidur malam. Efektifnya, orangtua memberikan contoh. Siapkan peralatan gosok gigi sebelum mandi pagi dan lakukan kegiatan gosok gigi bersama sebelum tidur. Bisa juga dengan menempelkan jadwal di papan. Jika anak melakukannya maka akan mendapat stiker bintang/kupon kecil. Stiker/kupon ini bisa ditukarkan dengan reward tertentu bila mencapai jumlah tertentu. Misal, ditukarkan dengan nonton film di bioskop, buku cerita, dan sebagainya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>5. Tidak nonton sinetron dengan muatan buruk.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Jika kedua orangtua bekerja, bisa saja pengaruh ini didapat dari kebiasaan pengasuh menonton sinetron. Tentunya, harus ada aturan jelas yang ditetapkan bagi orang di rumah dan diperlukan kerja samanya. Selain itu, berikan penjelasan pada anak mengapa ia tidak dibolehkan menonton sinetron dewasa. Katakan dengan bahasa yang mudah dicerna dan dimengerti anak, semisal bahwa tontonan tersebut tidak bagus dan bisa membuatnya bodoh. Alihkan tontonan anak pada film-film yang memang khusus untuk seusianya. Orangtua bisa membelikan VCD atau berlangganan televisi kabel, umpamanya. Dengan dibiasakan seperti ini anak juga lama-lama tak masalah bila tak menonton televisi. Juga anak tak merasa suatu keharusan untuk menonton.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>&nbsp;6. Bangun pagi sebelum berangkat sekolah.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div><img width="200" height="151" border="2" align="left" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/bangunpagi.jpg" />Di usia prasekolah, kebanyakan anak sudah duduk di TK dan mereka harus bisa bangun pagi untuk bersiap berangkat sekolah. Nah, agar anak bisa bangun pagi dan berangkat sekolah tanpa ada masalah/hambatan, maka malamnya jangan biarkan anak tidur larut. Kemudian paginya, bangunkan dia dengan menyetelkan lagu-lagu anak yang menyenangkan atau apa pun yang disukai anak di pagi hari. Intinya, buatlah keramaian di pagi hari. Perhatikan pula karakter masing-masing anak. Ada anak yang butuh waktu lebih lama dari bangun pagi untuk mandi, ada juga yang cepat. Lakukan pendekatan pada masing-masing anak. Motivasi bisa dilakukan pula dengan pemberian stiker untuk kemudian ditukar dengan suatu reward. Namun, jika anak selalu malas-malasan untuk berangkat ke sekolah apalagi sampai mogok sekolah, orangtua perlu mencari penyebabnya. Mungkin ada masalah di sekolahnya.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>&nbsp;7. Punya waktu belajar.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Anak perlu memiliki sikap positif dengan mau belajar di jam-jam tertentu. Memang, anak usia ini belum belajar dalam arti sesungguhnya dan juga belum mendapat PR dari sekolahnya. Namun dengan dibiasakan belajar di waktu-waktu tertentu akan mempermudah orangtua saat kelak anak di usia sekolah. Anak akan terbiasa melakukan kegiatan belajar di jadwal tersebut.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Cara memotivasinya dengan memberikan aktivitas atau kegiatan belajar sambil bermain di waktu khusus belajar. Orangtua harus terlibat di dalamnya, menemani, membantu dan juga mengarahkan. Sediakan pula buku-buku aktivitas, semisal buku aktivitas menggambar, mewarnai, berhitung, dan sebagainya. Lakukan secara rutin aktivitas ini. Mengingat konsentrasi anak belum terbentuk baik di usia ini, maka tingkatkan terus konsentrasinya dari waktu ke waktu agar anak mau melakukan aktivitasnya dengan baik.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><strong>&nbsp;8. Mau membaca.</strong></div>
<div>&nbsp;</div>
<div>Tak menutup kemungkinan anak usia ini ada yang sudah bisa membaca. kalaupun anak belum bisa membaca namun orangtua tetap perlu menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Orangtua harus memberikan contoh dengan suka membaca dan membacakan buku cerita atau dongeng sebelum tidur secara rutin sehingga ada keinginan anak untuk mau bisa membaca sendiri. Bisa juga orangtua membacakan cerita sambil bermain peran. Lama kelamaan anak akan mau membaca. Lakukan pula kegiatan belajar membaca sambil bermain yang bisa orangtua ciptakan secara kreatif.</div>
<div>&nbsp;</div>
<div><a href="http://www.tabloid-nakita.com/">http://www.tabloid-nakita.com/</a></div>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D342&amp;t=MEMOTIVASI%20DISIPLIN%20DIRI" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=342</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BEBAS MENGGAMBAR APA SAJA</title>
		<link>http://febryan.com/?p=333</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=333#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 14:45:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuh Kembang]]></category>
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Menggambar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Hentikan &#34;campur tangan&#34; Anda. Biarkan anak menggambar sesuka hatinya untuk mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasinya.&#160;&#160; Menggambar tentunya terkait dengan perkembangan motorik kasar dan halus seorang anak. Selain itu, menggambar dapatmeningkatkan kemampuan otak kanan anak untuk visualisasi, yang pada akhirnya memiliki peranan sangat penting untuk meningkatkan semua aktivitas intelektual. Dari pemecahan masalah sampai pada penguasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">&nbsp;</span><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana" size="3"> <font size="2" face="Verdana"> </font></font></span><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"> </font></font></p>
<p><font color="#000000" face="Verdana" size="3"><font color="#000000" size="2" face="Verdana"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><em><font face="Verdana"><font size="2">Hentikan &quot;campur tangan&quot; Anda. Biarkan anak menggambar sesuka hatinya untuk mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasinya.</font></font></em></span>&nbsp;&nbsp;</p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><img width="200" height="192" border="2" align="left" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/menggambar.jpg" />Menggambar tentunya terkait dengan perkembangan motorik kasar dan halus seorang anak. Selain itu, menggambar dapatmeningkatkan kemampuan otak kanan anak untuk visualisasi, yang pada akhirnya memiliki peranan sangat penting untuk meningkatkan semua aktivitas intelektual. Dari pemecahan masalah sampai pada penguasaan pengetahuan baru dengan lebih mudah dan efisien.<br />
</span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">Agar seorang anak berhasil, ia membutuhkan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi tantangan hidup. Kemampuan itu berasal dari hasil interaksi fungsi belahan otak kanan dan kiri. Seorang peneliti sains Jerre Lery mengatakan, &quot;Otak yang normal memang diciptakan untuk tantangan. Dia hanya akan bekerja optimal bila persyaratan pemrosesan pengertian itu cukup kompleks untuk menggerakkan kedua belahan otak.&quot;<br />
</span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">Nah, aktivitas menggambar rupanya dapat mengembangkan kemampuan otak kiri dan terutama kanan. Dengan catatan, biarkan anak menggambar bebas sebebas imajinasinya.&nbsp;<span id="more-333"></span></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><font size="5"><font size="2"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana"><!--more--></font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><b><span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: normal; "><b> </b></span></b></span></p>
<p><b><b></p>
<p align="left" style="display: inline !important; "><span style="color: rgb(0, 255, 255); ">TAHAPAN MENGGAMBAR</span></p>
<p></b></b></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">Pada rentang usia prasekolah (3-6 tahun), anak masuk dalam 2 tahapan tingkat menggambar, yaitu:</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana" size="2"> </font><font size="2"> </font></span><font size="2"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">1. TAHAP CORENG MENCORENG</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font size="6"><img border="0" align="right" alt="" src="http://www.tabloid-nakita.com/photo/10491prasekolah01.jpg" /></font><font face="Verdana">Dimulai dari usia 2 tahun dan berakhir di usia 4 tahun. Tahap ini terbagi menjadi tahap tak beraturan, tahap corengan terkendali dan tahap corengan bernama. Pada masa ini anak belum menggambar untuk mengutarakan suatu maksud. Anak hanya ingin membuat sesuatu yang dikemukakannya melalui mencoreng. Setelah mencoreng anak akan merasa senang. Tahap ini merupakan</font></span></p>
<p></font></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font size="5"><font size="2"> </font></font><font size="2"> </font></span><font size="2"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">masa permulaan bagi anak untuk menggambar yang sesungguhnya. Di akhir tahap ini anak mulai memberi nama pada corengannya, mulailah corengan tersebut bermakna sebagai ungkapan emosi anak.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">Sering kali, kita melihat hasil karya anak di tahap ini seperti benang kusut yang acak dan tidak berarti. Padahal mungkin itu sangat berarti bagi si anak. Mungkin ada cerita yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu orang dewasa, baik orangtua dan lainnya, tidak dianjurkan mengkritik hasil corengan anak. Kritik yang berlebihan atau terus-menerus akan membuat gambar anak tidak komunikatif sehingga ia tak mau lagi melakukan kegiatan mencoreng.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(0, 255, 255); "><strong><font face="Verdana">2. TAHAP PRABAGAN</font></strong></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">Dimulai dari usia 4 tahun dan berakhir pada usia 7 tahun. Di tahap ini motorik anak sudah lebih berkembang. Ia bisa mengendalikan tangan dan menuangkan imajinasinya dengan lebih baik. Di tahap ini anak menggambar dengan penekanan pada bagian yang aktif dan sering melupakan beberapa bagian. Contoh, jika anak menggambar orang, maka penekanan dilakukan pada bagian kepala, tangan dan kaki. Sering kali kita melihat anak pada tahapan ini menggambar orang sebagai satu keutuhan lingkaran dengan mata, tangan dan kaki yang juga menempel pada lingkaran tersebut.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">Pada tahap ini anak lebih mengutamakan hubungan gambar dengan objek daripada hubungan warna dengan objek. Kerap kali kita temukan gambar dengan warna yang tidak sesuai aslinya. Umpama, langit warna merah, jalan warna kuning, dan sebagainya. Objek gambar pun masih dari objek-objek yang ada di sekitarnya, seperti orangtua, binatang peliharaannya, dan lainnya. Maka dari itu, orangtua perlu mengenalkan berbagai hal dan objek-objek yang dapat dieksplorasi oleh anak untuk dituangkan dalam bentuk gambar.</font></span></p>
<p></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font size="2"> </font><font face="Verdana" size="2"><b> </b></font></span><font face="Verdana" size="2"><b></p>
<p align="left"><span style="color: rgb(0, 255, 255); ">PENDIDIK &amp; ANAK</span></p>
<p></b><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><b> </b> </span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">Bila kemampuan menggambar seorang anak tidak sesuai dengan tahapan usianya, tak perlu kita langsung berkesimpulan bahwa ia mengalami keterlambatan ataupun ketidakmampuan dalam menggambar. Asal tahu saja, banyak faktor yang memengaruhi kemampuan menggambar seorang anak, antara lain:</span></p>
<p></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana" size="2"> </font><font size="3"><font size="2"> </font></font></span><font size="3"><font size="2"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">* Faktor Pendidik</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Kritik orangtua maupun guru terhadap hasil karya anak dapat membuat hatinya terluka, merasa gagal, dan malu melakukan aktivitas menggambarnya kembali.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Kurangnya dorongan dari pendidik untuk anak beraktivitas, mengeksplorasi alam sekitar dan menuangkan imajinasinya ke dalam gambar.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Metode pengajaran yang diterapkan justru menghambat kreativitas anak. Salah satunya dengan cara selalu memberikan contoh gambar dan warna yang baku untuk diikuti oleh anak. Hal ini membuat anak tak bisa mengekspresikan apa yang dipikirkannya secara bebas. Padahal tentunya tiap anak memiliki cara berekspresi yang beda.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">* Faktor Anak</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Kemampuan motorik kasar dan halus yang merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak sesuai usianya.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Keinginan atau minat anak terhadap menggambar. Sebenarnya, setiap anak pasti bisa menggambar karena gambar merupakan bahasa rupa. Namun, jika anak tidak difasilitasi dan diberi ruang berekspresi, bisa saja dorongan untuk menggambar itu tidak terlihat.</font></span></p>
<p></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font size="2"> </font><font face="Verdana" size="2"><b> </b></font></span><font face="Verdana" size="2" color="#9900CC"><b></p>
<p align="left"><span style="color: rgb(0, 255, 255); ">UPAYA ORANGTUA</span></p>
<p></b></font><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana" size="2"><b> </b></font><font size="2"> </font></span><font size="2"></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">Nah, agar anak mau menggambar dan dapat melalui tahapan perkembangannya dengan optimal, inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua:</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Berikan dorongan kepada anak untuk menuangkan imajinasinya menjadi gambar.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Dampingi anak saat ia melakukan aktivitas tersebut, sehingga anak merasa mendapat dukungan. Selama mendampingi anak hindari mencampuri cara berekpresinya dengan memberi instruksi ini atau itu.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Biarkan anak menceritakan apa yang digambarnya. Jangan mengkritiknya.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Berikan pujian dan motivasi kepada anak akan hasil karyanya.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Jangan selalu memberikan buku mewarnai. Sebaiknya, berikan kertas kosong untuk anak menggambar sesuai dengan &quot;sidik jarinya&quot;.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Sediakan bahan dan alat yang diperlukan supaya anak dapat bereksplorasi secara luas. Jangan hanya dengan pensil warna saja, tapi sediakan juga bahan lain seperti krayon, cat air, cat akrilik, spidol, kapur, dan arang sekalipun.</font></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><font face="Verdana">- Biarkan anak menggambar sesuai dengan perkembangannya. Tak perlu dikoreksi.</font></span></p>
<p></font></font></font></font></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: rgb(255, 204, 0); ">&nbsp;http://www.tabloid-nakita.com</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D333&amp;t=BEBAS%20MENGGAMBAR%20APA%20SAJA" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=333</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JIKA KELEWAT TERTIB</title>
		<link>http://febryan.com/?p=328</link>
		<comments>http://febryan.com/?p=328#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 03:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[PRA SEKOLAH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://febryan.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tak fleksibel? &#160;Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><em><span style="font-family: Verdana; ">Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tak fleksibel?</span></em><span style="font-family: Verdana; "><br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; "><img width="205" height="205" align="right" alt="" src="http://febryan.com/wp-content/uploads/prasekolah01.jpg" />&nbsp;Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai &quot;prosedur&quot;.<span id="more-328"></span></span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; "><strong>BERBAGAI ALASAN</strong><br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. &quot;Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya,&quot; kata Yelia.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?&quot; tanya saya.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal,&quot; jawab Yelia.</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Ada sebab lainnya lagi tidak?&quot; tanya saya kembali.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang &lsquo;sempurna&rsquo; baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak.&quot;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?&quot;</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya.&quot;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; "><strong>POSITIF-NEGATIF</strong><br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. &quot;Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan.&quot;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. &quot;Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat.&quot;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; "><strong>VARIASI, DONG&#8230;</strong><br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?&quot; tanya saya segera.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu,&quot; kata Yelia.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. &quot;Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi &lsquo;hal baru&rsquo; tersebut,&quot; lanjut Yelia.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">&quot;Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi,&quot; tambahnya segera. &quot;Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel.&quot;<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.<br />
</span></span></p>
<p><span style="color: rgb(255, 255, 0); "><span style="font-family: Verdana; ">Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai &quot;sekaku&quot; itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.</span></span></p>
<p><a href="http://www.tabloid-nakita.com/"><span style="color: rgb(255, 255, 0); ">http://www.tabloid-nakita.com/</span></a></p></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Ffebryan.com%2F%3Fp%3D328&amp;t=JIKA%20KELEWAT%20TERTIB" id="facebook_share_both" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
<script type="text/javascript">
var button = document.getElementById('facebook_share_link') || document.getElementById('facebook_share_icon') || document.getElementById('facebook_share_both') || document.getElementById('facebook_share_button');
if (button) {
	button.onclick = function(e) {
		var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
		window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
		return false;
	}

	if (button.id === 'facebook_share_button') {
		button.onmouseover = function(){
			this.style.color='#fff';
			this.style.borderColor = '#295582';
			this.style.backgroundColor = '#3b5998';
		}
		button.onmouseout = function(){
			this.style.color = '#3b5998';
			this.style.borderColor = '#d8dfea';
			this.style.backgroundColor = '#fff';
		}
	}
}
</script>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://febryan.com/?feed=rss2&amp;p=328</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
