Archive for the 'PRA SEKOLAH' Category
June 17th, 2010 -- Posted in PRA SEKOLAH |
Di kelompok bermain, anak akan mengenal dan memahami banyak hal yang “tidak sama”. Tidak masalah, karena justru akan memperkaya wawasan anak
Di usia 3 tahun, saat anak mulai masuk kelompok bermain, ia bertemu banyak teman yang berbeda darinya. Entah itu beda kebiasaan, bahasa, warna kulit, juga beda agama. Anak pun bertanya-tanya: “Mengapa warna kulitku beda dengan Igo, temanku? Kenapa cara Igo berdoa sebelum makan seperti itu?”
Inilah kesempatan emas bagi Anda untuk lebih banyak lagi mengenalkan anak tentang perbedaan. Pengetahuan ini selain mempersiapkan anak untuk hidup bersama dalam perbedaan, juga mengajarkan toleransi, kebersamaan dan empati.
continue reading »
Share on Facebook
April 27th, 2010 -- Posted in Kesehatan, PRA SEKOLAH |
Bantu si prasekolah sedini mungkin.
Suatu sore yang cerah, Iwan (4) asyik bermain di luar rumah bersama pengasuhnya. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh suara ledakan cukup keras. Serentak

keduanya menoleh ke arah suara tersebut, yang ternyata adalah ledakan kompor minyak milik pedagang mi ayam. Beruntung api yang menyala besar itu dapat segera dipadamkan oleh si pedagang dengan bantuan beberapa tetangga. Namun sejak peristiwa itu Iwan selalu ketakutan bila melihat api, termasuk api yang berasal dari kompor gas di rumah. Bocah cilik itu langsung lari menghindar.
Ya, Iwan mengalami apa yang disebut trauma, bukan sekadar ketakutan biasa, jadi tingkatannya lebih tinggi dari ketakutan yang umumnya dialami anak-anak. Trauma merupakan suatu kejadian yang sangat membekas dan amat mendalam pada diri anak. Anak pernah menyaksikan, mengalami, dan merasakan langsung kejadian yang secara aktual mengerikan, menakutkan atau mungkin bahkan mengancam jiwanya. Contoh, peristiwa tabrakan, bencana alam, kebakaran, kematian seseorang, kekerasan fisik maupun seksual, pertengkaran hebat orangtua, perceraian, dan sebagainya. Bagi si prasekolah kejadian ini akan membekas dalam ingatannya dan tak mudah untuk melupakannya.
Reaksi anak pada kejadian tersebut bisa bermacam-macam. Ada yang tercenung, menangis, diam saja, dan lainnya. Selanjutnya akan timbul gejala seperti: anak menolak membicarakan peristiwa yang pernah dialaminya, menghindar dari apa yang ditakutinya, aktivitas rutinnya tiba-tiba juga berubah, takut pada orang yang mengintimidasinya, jadi susah tidur dan jika malam selalu mimpi buruk dengan terbangun dan keringatan, gampang marah, tak bisa konsentrasi, tak mau berteman, minatnya hilang, dan sebagainya. Biasanya gejala ini muncul berulang dan dalam waktu lama.
Harap dipahami, dampak trauma pada anak sungguh luar biasa. Karena bagaimanapun juga daya ingat atau memori anak bersifat menetap, sehingga bisa mengganggu tumbuh kembang dan juga caranya membangun relasi dengan orang lain serta lingkungannya sampai dewasa nanti. Ada banyak faktor yang memengaruhi proses "penyembuhan" anak dari trauma yang dialaminya, antara lain tingkat stres anak itu sendiri dan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Jika daya tahan anak terhadap stres cukup kuat dan lingkungannya kondusif, maka proses mengatasi trauma akan lebih optimal. Jika tidak, anak akan terus terbenam dalam traumanya. Anak trauma perlu dibantu memilah mana yang baik bagi hidupnya untuk diingat dan mana pula ingatan yang tak perlu difokuskan dan sebaiknya disingkirkan.
Mengingat sulitnya mengatasi trauma ini, selain butuh bantuan lingkungan, anak juga perlu bantuan profesional dari psikolog atau mungkin psikiater.
Share on Facebook
April 27th, 2010 -- Posted in PRA SEKOLAH, Tumbuh Kembang |
Apa yang "hilang" kalau si prasekolah sulit diajak tidur siang?
Memasuki usia 4 tahunan, sebagian anak mulai meninggalkan kebiasaan tidur siangnya. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena anak tengah tertarik pada mainan dan permainan serta lingkungan pertemanan yang ditemuinya. Padahal, menurut dr. Yuda Turana, Sp.S., dengan tidur siang ada beberapa faedah yang bisa dirasakan. Misalnya, untuk memulihkan fisik dan mental setelah sejak pagi beraktivitas.

Dengan tidur siang, tubuh menjadi relaks. Selama tidur, hormon kortisol bekerja menetralisasi stres. Ketika anak bangun, dia merasa kembali segar dan kemampuan berkonsentrasinya kembali meningkat. Selain itu, kala tidur siang, metabolisme otak berlangsung sangat aktif. Efeknya baik bagi korteks otak, terutama untuk meningkatkan kemampuan kognitif. Alhasil, diharapkan anak bisa menyerap stimulasi yang diberikan dengan baik.
Beberapa penelitian menguak tidur siang terbukti meningkatkan kesiapan tubuh, memulihkan mood bahkan produktivitas. Secara fisik juga, memberikan kesempatan pada tubuh untuk mendapat energi baru sebagai "amunisi" untuk melakukan aktivitas. Selama tidur, memang semua fungsi organ tubuh cenderung melamban. Nah, pada saat itulah sel dan jaringan yang aus dan rusak dipulihkan. Lantaran itu, anak dianjurkan untuk tidur siang karena mereka dalam masa pertumbuhan sehingga sedang banyak bergerak dan membutuhkan banyak energi.
Dari sisi psikologis, tidur siang juga mengajari si prasekolah untuk berdisiplin pada aturan sehingga ia bisa belajar mengelola waktu. Dalam skala lebih luas, bila kita mengajarkan dan menerapkan aturan secara konsisten, maka kelak anak akan disiplin terhadap waktu.
Sebaliknya, bila tak tidur siang, anak relatif jadi mudah rewel, gampang ngambek, uring-uringan, kurang mampu berkonsentrasi, dan malas makan. Ujung-ujungnya, berbagai aktivitas yang bermanfaat urung dilakukan.
Lantaran itulah, kata dokter yang berpraktik di RS Pantai Indah Kapuk tersebut, anak memang membutuhkan tidur siang. Tentunya, kebutuhan tidur siang pada tiap tingkat usia berbeda-beda. Untuk usia prasekolah cukup sekitar 1-2 jam. Nah, yang perlu diperhatikan juga adalah kualitas tidur. Meskipun cukup lama, kalau di saat bangun anak tak merasa bugar, ini berarti tidurnya kurang berkualitas. Jangan lupa batasi waktunya. Kelamaan tidur siang justru bisa menyebabkan sulit tidur di malam hari. Jadi, lebih baik tidur 1 jam tapi si anak benar-benar lelap.
Share on Facebook
March 29th, 2010 -- Posted in PRA SEKOLAH |
Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tak fleksibel?
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur". continue reading »
Share on Facebook