Balita Laki-laki Belajar dari Ayah

17 June 2010 09:22 am -- Post di Orang Tua | No Comments »

 Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Apa saja yang dipelajari balita laki-laki dari ayahnya?

 
Suatu penelitian mengungkap bahwa para ayah perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu bisa saja berkurang. Namun kebutuhan anak laki-laki untuk berinteraksi dengan ayah, dua kali melebihi kebutuhan anak perempuan.
Share on Facebook

Perbedaan Anatomis Otak Bayi Lelaki dan Perempuan

17 June 2010 09:16 am -- Post di Kesehatan, Orang Tua | No Comments »

 Penelitian di Virgian Polytechnic Institute and state University, AS (2008) terhadap 224 anak perempuan dan 284 anak lelaki usia 2 bulan-16 tahun, mengatakan kemampuan berbahasa dan motorik halus anak perempuan berkembang 6 tahun lebih awal dari area otak anak lelaki. Area di otak yang melibatkan spasial dan menargetkan suatu hal berkembang 4 tahun lebih awal pada anak lelaki dibandingkan otak anak perempuan. Setelah lahir, otak bayi lelaki dan perempuan tetap menunjukkan perbedaan secara anatomi. Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook

Perbedaan Perkaya Wawasan Anak

17 June 2010 09:09 am -- Post di PRA SEKOLAH | No Comments »

 Di kelompok bermain, anak akan mengenal dan memahami banyak hal yang “tidak sama”. Tidak masalah, karena justru akan memperkaya wawasan anak


Di usia 3 tahun, saat anak mulai masuk kelompok bermain, ia bertemu banyak teman yang berbeda darinya. Entah itu beda kebiasaan, bahasa, warna kulit, juga beda agama. Anak pun bertanya-tanya: “Mengapa warna kulitku beda dengan Igo, temanku? Kenapa cara Igo berdoa sebelum makan seperti itu?”  

Inilah kesempatan emas bagi Anda untuk lebih banyak lagi mengenalkan anak tentang perbedaan. Pengetahuan ini selain mempersiapkan anak untuk hidup bersama dalam perbedaan, juga mengajarkan toleransi, kebersamaan dan empati. 
Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook

Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam

02 June 2010 02:28 pm -- Post di JADI TAHU, Umum | No Comments »
PEMANDANGAN LANGIT
Merah Mars, Biru Regulus di Langit Hitam
 

Langit malam di bulan Juni akan menjadi pemandangan elok bagi astronom maupun warga biasa. Pasalnya, planet merah Mars dan bintang biru Regulus yang berada pada posisi terdekatnya bulan ini akan tampak sebagai bintang ganda yang bersinar terang di arah barat langit.

Antara tanggal 2-10 Juni, Mars dan Regulus berjarak 2,5 derajat satu sama lain. Konjungsi (jarak terdekat antara dua benda angkasa) akan terjadi pada 6 Juni, pada saat Mars hanya berjarak 0,8 derajat dari Regulus. Pada malam sesudahnya, jaraknya akan menjadi 0,9 derajat.

Mars akan bersinar pada magnitudo 1,2, yang berarti sedikit lebih terang daripada Regulus pada magnitudo 1,34 (semakin besar angkanya semakin kurang terang). Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook

Akupuntur Hasilkan Pereda Nyeri Alami

02 June 2010 02:20 pm -- Post di Kesehatan, Orang Tua | No Comments »

 Setiap tusukan jarum di titik tertentu di tubuh ternyata efektif untuk merangsang tubuh mengeluarkan pereda nyeri alamiah yang disebut adenosine.Hasil penelitian ini semakin mengukuhkan pendapat bahwa metode akupuntur bisa diteliti dan dijelaskan secara ilmiah. 

Berbekal pengetahuan tersebut, para ahli yakin manfaat akupuntur ini bisa digabungkan dengan obat kanker deoxycoformycin, yang menjaga agar kadar adenosine dalam tubuh lebih bertahan lama.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Dr.Maiken Nedergaard dan timnya dari University of Rochester Medical Center. Secara intensif mereka melakukan penelitian pada mencit yang diberikan terapi akupuntur setengah jam untuk kelompok mencit yang mengalami rasa tidak nyaman karena bekas cakaran.  Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook

MENGATASI TRAUMA

27 April 2010 11:43 am -- Post di Kesehatan, PRA SEKOLAH | 1 Comment »

 Bantu si prasekolah sedini mungkin.

 
 
Suatu sore yang cerah, Iwan (4) asyik bermain di luar rumah bersama pengasuhnya. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh suara ledakan cukup keras. Serentak keduanya menoleh ke arah suara tersebut, yang ternyata adalah ledakan kompor minyak milik pedagang mi ayam. Beruntung api yang menyala besar itu dapat segera dipadamkan oleh si pedagang dengan bantuan beberapa tetangga. Namun sejak peristiwa itu Iwan selalu ketakutan bila melihat api, termasuk api yang berasal dari kompor gas di rumah. Bocah cilik itu langsung lari menghindar.
 
Ya, Iwan mengalami apa yang disebut trauma, bukan sekadar ketakutan biasa, jadi tingkatannya lebih tinggi dari ketakutan yang umumnya dialami anak-anak. Trauma merupakan suatu kejadian yang sangat membekas dan amat mendalam pada diri anak. Anak pernah menyaksikan, mengalami, dan merasakan langsung kejadian yang secara aktual mengerikan, menakutkan atau mungkin bahkan mengancam jiwanya. Contoh, peristiwa tabrakan, bencana alam, kebakaran, kematian seseorang, kekerasan fisik maupun seksual, pertengkaran hebat orangtua, perceraian, dan sebagainya. Bagi si prasekolah kejadian ini akan membekas dalam ingatannya dan tak mudah untuk melupakannya.
 
Reaksi anak pada kejadian tersebut bisa bermacam-macam. Ada yang tercenung, menangis, diam saja, dan lainnya. Selanjutnya akan timbul gejala seperti: anak menolak membicarakan peristiwa yang pernah dialaminya, menghindar dari apa yang ditakutinya, aktivitas rutinnya tiba-tiba juga berubah, takut pada orang yang mengintimidasinya, jadi susah tidur dan jika malam selalu mimpi buruk dengan terbangun dan keringatan, gampang marah, tak bisa konsentrasi, tak mau berteman, minatnya hilang, dan sebagainya. Biasanya gejala ini muncul berulang dan dalam waktu lama.
 
Harap dipahami, dampak trauma pada anak sungguh luar biasa. Karena bagaimanapun juga daya ingat atau memori anak bersifat menetap, sehingga bisa mengganggu tumbuh kembang dan juga caranya membangun relasi dengan orang lain serta lingkungannya sampai dewasa nanti. Ada banyak faktor yang memengaruhi proses "penyembuhan" anak dari trauma yang dialaminya, antara lain tingkat stres anak itu sendiri dan pengaruh lingkungan di sekitarnya. Jika daya tahan anak terhadap stres cukup kuat dan lingkungannya kondusif, maka proses mengatasi trauma akan lebih optimal. Jika tidak, anak akan terus terbenam dalam traumanya. Anak trauma perlu dibantu memilah mana yang baik bagi hidupnya untuk diingat dan mana pula ingatan yang tak perlu difokuskan dan sebaiknya disingkirkan.
 
Mengingat sulitnya mengatasi trauma ini, selain butuh bantuan lingkungan, anak juga perlu bantuan profesional dari psikolog atau mungkin psikiater.
Share on Facebook

TIDUR SIANG VS SI PRASEKOLAH

27 April 2010 11:29 am -- Post di PRA SEKOLAH, Tumbuh Kembang | No Comments »
Apa yang "hilang" kalau si prasekolah sulit diajak tidur siang?
 
 
Memasuki usia 4 tahunan, sebagian anak mulai meninggalkan kebiasaan tidur siangnya. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena anak tengah tertarik pada mainan dan permainan serta lingkungan pertemanan yang ditemuinya. Padahal, menurut dr. Yuda Turana, Sp.S., dengan tidur siang ada beberapa faedah yang bisa dirasakan. Misalnya, untuk memulihkan fisik dan mental setelah sejak pagi beraktivitas.
 
Dengan tidur siang, tubuh menjadi relaks. Selama tidur, hormon kortisol bekerja menetralisasi stres. Ketika anak bangun, dia merasa kembali segar dan kemampuan berkonsentrasinya kembali meningkat. Selain itu, kala tidur siang, metabolisme otak berlangsung sangat aktif. Efeknya baik bagi korteks otak, terutama untuk meningkatkan kemampuan kognitif. Alhasil, diharapkan anak bisa menyerap stimulasi yang diberikan dengan baik.
 
Beberapa penelitian menguak tidur siang terbukti meningkatkan kesiapan tubuh, memulihkan mood bahkan produktivitas. Secara fisik juga, memberikan kesempatan pada tubuh untuk mendapat energi baru sebagai "amunisi" untuk melakukan aktivitas. Selama tidur, memang semua fungsi organ tubuh cenderung melamban. Nah, pada saat itulah sel dan jaringan yang aus dan rusak dipulihkan. Lantaran itu, anak dianjurkan untuk tidur siang karena mereka dalam masa pertumbuhan sehingga sedang banyak bergerak dan membutuhkan banyak energi.
 
Dari sisi psikologis, tidur siang juga mengajari si prasekolah untuk berdisiplin pada aturan sehingga ia bisa belajar mengelola waktu. Dalam skala lebih luas, bila kita mengajarkan dan menerapkan aturan secara konsisten, maka kelak anak akan disiplin terhadap waktu.
 
Sebaliknya, bila tak tidur siang, anak relatif jadi mudah rewel, gampang ngambek, uring-uringan, kurang mampu berkonsentrasi, dan malas makan. Ujung-ujungnya, berbagai aktivitas yang bermanfaat urung dilakukan.
 
Lantaran itulah, kata dokter yang berpraktik di RS Pantai Indah Kapuk tersebut, anak memang membutuhkan tidur siang. Tentunya, kebutuhan tidur siang pada tiap tingkat usia berbeda-beda. Untuk usia prasekolah cukup sekitar 1-2 jam. Nah, yang perlu diperhatikan juga adalah kualitas tidur. Meskipun cukup lama, kalau di saat bangun anak tak merasa bugar, ini berarti tidurnya kurang berkualitas. Jangan lupa batasi waktunya. Kelamaan tidur siang justru bisa menyebabkan sulit tidur di malam hari. Jadi, lebih baik tidur 1 jam tapi si anak benar-benar lelap.
Share on Facebook

MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI

15 April 2010 08:11 pm -- Post di Tumbuh Kembang | 1 Comment »

 MEMOTIVASI DISIPLIN DIRI

Kuncinya sederhana saja. Mau tahu?
 
Suatu sore di hari Minggu, Bunda mengajak Bryan, anak lelakinya yang berusia 3,2 tahun, makan ikan bakar di sebuah rumah makan di Pertokoan Maspion Square. Seperti umumnya tempat makan, selalu tersedia sebuah pesawat teve. Saat menikmati ikan bakar, tiba-tiba saja Bryan dengan suara kerasnya nyeletuk, "Mama, nonton sinetron kan bikin anak bodoh ya?" Sang bunda agak tersentak tapi lalu cepat-cepat mengangguk sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Sempat Bunda menoleh ke arah pengunjung lain yang menengok ke arah mereka, entah lantaran suara Bryan yang keras ataukah karena perkataannya.
 
Kali lain, kisah Bunda lagi, Bryan mendapatkan sebuah goody bag dari teman sekelasnya yang berulang tahun. Tiba di rumah, Bryan langsung memilah sendiri mana saja snack yang tak dibolehkan dikonsumsi selama ini karena tidak ada label HALAL. Jika ada snack baru yang belum dikenalnya dan dia tak tahu ada-tidaknya label HALAL di bungkusnya, maka lebih dahulu dia akan menanyakannya pada sang Mama, "Kalau yang ini boleh enggak, Ma?" atau dia sendiri sudah bisa mengatakan, "Aku enggak mau makanan yang seperti itu, soalnya Nggak ada label HALAL-nya."
 
Banyak lagi hal lain yang diceritakan Bunda tentang "kehebatan" anak lelaki semata wayangnya itu. Bunda sangat bangga terhadap buah hatinya. Betapa tidak? Di usia yang masih balita, sang anak sudah bisa bersikap positif. Tentu saja, hal itu berkat asuhan dan didikan yang konsisten dalam mengajarkan sikap/perilaku postif sejak dini. Seperti juga dikatakan Dr Ruri,  dokter Anak di Klinik dekat rumah, "Orangtua memang harus menanamkan sikap dan perilaku positif pada anak sedini mungkin." Baca Selanjutnya… »
Share on Facebook

BEBAS MENGGAMBAR APA SAJA

14 April 2010 09:45 pm -- Post di Tumbuh Kembang | No Comments »

 

Hentikan "campur tangan" Anda. Biarkan anak menggambar sesuka hatinya untuk mengembangkan kemampuan motorik dan imajinasinya.

  

Menggambar tentunya terkait dengan perkembangan motorik kasar dan halus seorang anak. Selain itu, menggambar dapatmeningkatkan kemampuan otak kanan anak untuk visualisasi, yang pada akhirnya memiliki peranan sangat penting untuk meningkatkan semua aktivitas intelektual. Dari pemecahan masalah sampai pada penguasaan pengetahuan baru dengan lebih mudah dan efisien.

Agar seorang anak berhasil, ia membutuhkan kemampuan terbaiknya untuk menghadapi tantangan hidup. Kemampuan itu berasal dari hasil interaksi fungsi belahan otak kanan dan kiri. Seorang peneliti sains Jerre Lery mengatakan, "Otak yang normal memang diciptakan untuk tantangan. Dia hanya akan bekerja optimal bila persyaratan pemrosesan pengertian itu cukup kompleks untuk menggerakkan kedua belahan otak."

Nah, aktivitas menggambar rupanya dapat mengembangkan kemampuan otak kiri dan terutama kanan. Dengan catatan, biarkan anak menggambar bebas sebebas imajinasinya.  Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook

JIKA KELEWAT TERTIB

29 March 2010 10:11 am -- Post di PRA SEKOLAH | 1 Comment »

Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tak fleksibel?

 Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.

Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur". Baca Selanjutnya… »

Share on Facebook